sebuah penyesalan yang tak henti - hentinya menyesakkan dada .
aku terlalu munafik untuk mengakui kesalahan , hanya mengeraskan hati untuk sesuatu yang berujung tangis darah .
ingin tidur dan kembali ke sisi nya dan tak akan pernah lari dari cobaan hidup .
hanya mampu lari - lari - dan lari , tanpa bisa menyelesaikan garis finis nya .
kalau begini terus , sampai kapan diri ini akan terbentuk kokoh untuk mempertahankan sebuah prinsip keluarga .
aku memang masih muda , dan ku selalu berkoar - koar bahwa jalan ku masih panjang .
tapi kalau seandainya besok atau nanti , aku dipanggil oleh - Nya , apakah jalanku masih panjang ?
ya Tuhan , aku harus bagaimana ?
rasanya sudah mati semua syaraf di tubuh ku ini .
bagai kaset rusak yang hanya bisa memutar setiap detail kebersamaan kita dulu .
bagai tersayat sembilu , makanpun tak penting lagi .
harus kemana ku cari lelaki yang seperti dia ?
bukan masalah paras atau amarahnya , namun kenyamanan bila bersamanya .
ataukah kami memang bukan jodoh ?
kalau memang bukan jodoh , lalu untuk apa aku dipertemukan dengan nya hingga terbelit perasaan yang menyesakkan ini .
aku mencintainya .
dia papa dari anakku .
ingin rasanya teriak sekencang - kencang nya dan berlari ke arahnya .
namun apa masih bisa ?
penyesalan memang hanya untuk disesali .
dia obat segala penyakit ku .
akankah aku bisa bertahan kalau tak ada lagi obat ku ?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar